Gitar
Bab 2
Teman
Keesokan harinya aku sekolah seperti biasa, tak ada yang berbeda. Disekolah aku sempat ceritakan kejadian kemarin kesalah satu temanku, sepertinya temanku tertarik dengan anak band itu, dan kami berkeinginan untuk bermain mencari tempat band. Saat pulang sekolah kulihat ada seorang laki-laki yang berdiri didekat pos satpam dari kejauhan seolah ia sedang mencari seseorang. Karena aku pulang arahnya ke pos satpam jadi mau tidak mau lewat dekat laki-laki itu, saat sudah melewati laki-laki itu tiba-tiba ia mengejarku dan menarik tanganku “hei! Masih inget aku?” sapanya. Baru ingat aku kalau itu orang yang kemarin di bus “iya, kok disini?”. “ada waktu? mau ajak main kamu ke tempat band, bisa?” tanyanya. Aku berpikir mana mungkin aku mau diajak pergi dengan orang yang baru kukenal begitu saja, jadi ku jawab tidak.
Lalu dia memutuskan untuk ikut ke kosku, berhubung tidak boleh bawa laki-laki masuk ke kamar dan tidak ada tempat duduk didalam area kos, jadi kami duduk di bangku teras. Disitu kami mengobrol dan ia kutinggal sebentar untuk ganti baju karena dari pulang sekolah kami langsung duduk disitu mengobrol sampai aku belum ganti baju, “bawa gitarnya sekalian ya!” pintanya. Ku bawa keluar gitarku sesuai pintanya, ia sedang asik smsan dengan seseorang sepertinya. Langsung kuberi gitar itu ke dia tanpa memperdulikan keasikkannya saat sms, tapi dia juga terlihat senang saat kuberi gitar. Lalu kami main gitar dengan asiknya sampai tidak terasa sudah sore hari. “udah sore ya, laper ga? Dideket sini ada resto apa?” tanyanya, ku beritahu beberapa tempat makan yang ada. Dia langsung menyuruhku menyimpan dahulu gitarnya dan mengajakku makan. Lalu kami pergi makan bersama, enak sekali aku ditraktir olehnya. “ngomong-ngomong kita blm kenalan” celotehnya saat kami sedang makan dengan nikmat, “iya ya..” jawabku sambil tersenyum. “Zio, panggil aku Zio” dia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. “Andra” kuperkenalkan diriku juga. Selesai makan kami bertukar nomor handphone dan ia mengantarku kembali ke kos. “besok main ke tempat band mau?” ia bertanya sebelum pulang, “ga bisa, kalo mau jumat” jawab ku. “oke! Jumat ku samperin lagi ya. Bye!”. “bye!” kulambaikan tanganku, lalu dia pulang.
Esoknya langsung ku ceritakan kejadian kemarin kepada temanku. Dia terlihat begitu senang, sepertinya temanku ini suka dengan Zio, pikirku. Dari hari selasa sampai kamis kami selalu smsan tiap malam. Saat kamis malam Zio bertanya jam berapa besok aku pulang, ku beritahu jam 11.30, ia bilang ingin menunggu di depan kos saja karena dia merasa tidak enak dilihat oleh murid dan guru-guru.
Pulang sekolah segera saja aku kembali ke kos, ternyata benar Zio sudah menunggu didepan kos dengan motornya. Saat aku lewat didepan Zio aku dan dia hanya sama-sama tersenyum, dan aku masuk ke kos lalu buru-buru ganti baju di kamar. Aku keluar kamar sambil membawa helm, karena Zio tidak membawa helm lagi selain yang ia pakai, dan polisi-polisi di Jogja begitu ketat pengawasannya jika tidak mau ditilang lebih baik membawa helm saja. Teman ku juga sudah kuberitahu kalau aku akan pergi bersama Zio, dia pesan agar aku mengambil gambar Zio, karena ia penasaran dengan sosok Zio. “udah?” tanya Zio yang melihat ku berjalan ke arahnya, aku hanya mengangguk dan langsung naik ke motor.
Bersambung..
Comments